05. Syarat Wajib Ibadah

|

Syarat wajib HAJI dan UMRAH

  • Islam –  Tidak wajib atas orang kafir dan murtad.
  • Baligh –  Tidak wajib atas anak-anak tapi sah hajinya dan tidak gugur wajibnya bila baligh
  • Berakal –  Tidak wajib atas orang gila dan jika dilakukan juga, tidak sah hajinya
  • Merdeka –  Hamba abdi tidak diwajibkan, tetapi sah Hajinya dan dapat Pahala
  • Mampu –  Berhubung dengan Mampu atau Berkemampuan.

Ini berdasarkan kepada Firman Allah S.W.T :

Dan menjadi kewajipanlah bagi manusia terhadap Allah untuk mengunjungi rumah itu bagi yang sanggup berjalan di antara mereka“ (Surah Ali Imran ayat 97)

Penjelasan :

  • Orang non muslim tidak sah dalam melaksanakan haji atau umrah. Jika dia berkunjung ke tanah suci bahkan mengikuti ibadah haji atau umrah seperti thawaf dan sa’i maka perjalanan haji atau umrahnya hanya sebatas melancong saja.
  • Ukuran baligh (dewasa) adalah 9 tahun untuk anak perempuan dan sekitar 15 tahun untuk anak laki-laki. Atau sebagian mengatakan rata-rata umur 15 tahun, baik untuk anak perempuan maupun anak laki-laki.
  • Seorang yang belum mencapai usia baligh tidak memiliki kewajiban melaksanakan ibadah haji/umrah. Bila dia sudah dewasa dan memiliki kemampuan materi dan non materi, maka wajib mengulangi ibadah haji/umrah.
  • Berakal sehat adalah tidak gila dan tidak memiliki gangguan jiwa.
  • Yang dimaksud merdeka adalah tidak berstatus sebagai budak (hamba sahaya di masa Rasulullah Saw. yang di masa modern ini hampir tidak ditemukan di dunia). Istilah merdeka juga bisa diartikan bebas dari tanggungan hutang dan tanggungan nafkah keluarga yang ditinggalkan.
  • Istilah Istitha’ah berarti mampu, baik secara materi dengan tidak memiliki hutang, maupun kesiapan mental dan spiritual.

 |

Kemampuan untuk Ibadah HAJI dan UMRAH

 a) Mampu dengan diri sendiri.

  • Mampu mengeluarkan belanja dan perbelanjaan lain untuk melakukan pekerjaan haji dari mulai hingga akhir.
  • Mempunyai bekal dan perbelanjaan yang cukup bagi nafkah orang yang dibawah tanggungannya.
  • Ada kendaraan pergi dan pulang.
  • Aman dalam perjalanan, yakni tidak ada marabahaya yang mengancam keselamatan diri dan harta. Ini termasuklah juga tidak ada penyakit yang membahayakan tubuh badan.
  • Sehat tubuh badannya.
  • Ada kesempatan untuk mengerjakan haji dan umrah.

Dari Anas r.a. katanya: Rasulullah s.a.w ditanya

Apakah yang dimaksudkan dengan Sabil ?

Rasulullah s.a.w. menjawab: “Perbekalan dan perjalanan“ Riwayat – Daruqutni

b) Mampu dengan bantuan orang lain.

  • Orang yang mempunyai cukup syarat wajib haji, tetapi tidak dapat mengerjakan hajinya sendiri karana keuzuran dan sakit yang tidak ada harapan akan sembuh, atau telah terlalu tua umurnya serta telah putus asa tidak dapat pergi sendiri menunaikan hajinya.
  • Orang yang telah meninggal dunia yang berupaya semasa hidupnya, tetapi tidak mengerjakan haji, maka terhutanglah fardu haji atasnya sehingga warisnya atau orang yang menerima wasiatnya menunaikan hutang Hajinya itu dengan upah atau secara sukarela.

Dalam masalah mengerjakan haji untuk orang lain atau upah haji, Rasulullah s.a.w yang dimaksud :

Dari Laqit bin Amir r.a bahawa dia telah datang kepada Rasulullah s.a.w dan berkata:

Bahwa ayah saya seorang yang telah tua, tidak berdaya menunaikan haji dan umrah, dan tidak berkuasa mengikuti rombongan atau berjalan untuk mengerjakan haji atau umrah

Rasulullah s.a.w. bersabda :

Tunaikanlah haji untuk ayahmu dan umrahnya sekali“. Riwayat – Abu Daud dan Tarmizi

 |

Syarat menjadi wakil atau mengambil upah menunaikan haji orang lain

  • Orang itu telah pun menunaikan Fardu Haji untuk dirinya sendiri dengan sempurna.

Sebagaimana Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud : “Dari Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah s.a.w mendengar seorang lelaki berkata ketika mengerjakan Haji :

Aku sahut seruan mengerjakan haji menggantikan Syubrumah“.

Lalu Rasulullah s.a.w. bertanya kepadanya :

Sudahkah engkau mengerjakan haji untuk diri engkau sendiri ?

Jawab lelaki itu, “Belum“.

Rasulullah s.a.w berkata kepadanya :

Kalau begitu hendaklah engkau kerjakan haji untuk diri engkau sendiri dahulu, kemudian engkau kerjakan haji untuk Syubrumah pula” (Riwayat-Abu Daud dan Ibnu Majah)

  • Hendaklah melakukan Fardu Haji untuk seorang saja bagi satu musim haji. Mestilah berihram pada miqat orang yang dihajikan itu atau pada tempat yang sama jauhnya dengan miqat itu.

Jika ditentukan kepadanya, maka hendaklah dia berihram pada sesuatu Miqat yang ditentukan, jika tidak ditentukan, maka haruslah bagi orang yang mengambil upah itu berihram pada Miqat yang dilaluinya.

Bagi orang yang berada di Mekah yang mengambil upah Haji, maka wajiblah dia keluar kepada Miqat yang dihajikannya, atau boleh juga pada miqat yang lebih dekat dari dirinya. Jika dia berihram dari pada Miqatnya (di Mekah) niscaya berdosa dan wajib atasnya DAM.

Hendaklah seorang yang cukup mahir bagi mengerjakan ibadat haji itu dengan sempurnanya, seperti dia mengerjakan haji untuk dirinya sendiri.

 |